Politik Makan Siang Jokowi Buat Achmad Purnomo

  • Whatsapp
Politik Makan Siang Jokowi Buat Achmad Purnomo
Achmad Purnomo.(Foto: Merdeka.com/Danny Adriadhi Utama)

SUARAHARIAN.COM – Menjelang petang, ponsel Achmad Purnomo berdering. Di ujung sambungan, salah seorang staf Istana Negera menanti. Telepon dijawab. Dalam obrolan, Purnomo diminta menunggu. Diberi kabar Presiden Joko Widodo segera menghubungi.

Waktu terus bergulir. Telepon dari Kepala Negara tak kunjung hadir. Purnomo masih melanjutkan pekerjaannya sebagai Wakil Wali Kota Solo, Jawa Tengah. Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering. Staf Istana tadi kembali memberi kabar. Penting. Presiden meminta Purnomo ke Istana esok hari.

Bacaan Lainnya

Undangan khusus Istana tidak bisa ditolak. Segera Purnomo mencari tiket pesawat. Semua demi memenuhi panggilan kawan lamanya, Presiden Jokowi.

Bagi Purnomo pemanggilan ini tidak biasa. Dia sudah merasa bahwa pembicaraan seputar rekomendasi PDIP untuk Gibran Rakabumi, putra sulung Jokowi, maju sebagai calon wali kota.

Informasi rekomendasi Gibran dari PDIP sudah diketauhi Purnomo sebelumnya. Keputusan itu membuat perasaannya legowo. Dari perjuangannya selama, nama Gibran ternyata yang dipilih partai.

Nama Purnomo sendiri diusung DPC PDIP Solo sebagai calon wali kota. Keputusan ini berdasarkan rapat internal. Wali Kota Solo sekaligus Ketua DPC PDIP FX Rudy, terus mendorong nama Purnomo agar diterima partai.

Kemunculan nama Gibran dikabarkan membuat pengurus PDIP di Solo gerah. Apalagi putra mahkota Jokowi itu baru mendaftar sebagai kader tahun lalu. Sudah jadi rahasia umum bahwa ada peran besar di balik terpilihnya Gibran.

Waktu pertemuan pun tiba. Purnomo melenggang ke Istana pada Kamis, 16 Juli 2020. Pertemuan itu tertutup.

Purnomo disambut Jokowi di dalam ruangan. Mereka lantas makan siang bersama. Diawali saling bertanya kabar. Sambil bersantap, obrolan mulai mengarah tentang pencalonan Gibran di Pilkada Solo 2020.

Dalam perbincangan itu, Jokowi juga memberitahu bahwa Purnomo gagal mendapat rekomendasi. Bukan informasi mengagetkan bagi Purnom. Dirinya sudah tahu lebih dulu.

Ucapan Kepala Negara tidak membuatnya kecewa. Sikapnya masih sama sejak awal diinformasikan. “Dari dulu saya kan sudah menduga akan ke arah itu,” kata Purnomo.

Purnomo memang sebelumnya sudah mengajukan surat mundur sebagai calon kepala daerah. Surat pengunduran diri telah diserahkan kepada FX Hadi Rudyatmo pada 28 Mei 2020.

Surat itu kemudian ditolak DPC PDIP Solo pada 7 Juni 2020. Sebagai kader partai, Purnomo diwajibkan untuk tetap maju dalam Pilkada mendatang.

Rapat yang diikuti DPC, PAC, ranting dan anak ranting tersebut juga memutuskan untuk tetap setia dan taat menunggu rekomendasi dari DPP PDIP terkait Pilkada Solo. Atas keputusan rapat tersebut, Purnomo harus bisa mentaati keputusan partai.

Perbincangan dua sahabat lama terus mengalir. Di sela obrolan, Jokowi sempat menawarkan Purnomo berkarir di Jakarta. Bagi Purnomo tawaran itu hanya alternatif. Dia tidak terlalu tertarik. Masih ingin tinggal di Solo.

Purnomo justru mengajukan permohonan. Sebelum ditawari jabatan karir di Jakarta, pria kelahiran 28 Desember 1948, itu meminta bantuan dana Rp100 miliar kepada Jokowi. Tujuannya untuk pembiayaan pembangunan Masjid di Taman Sriwedari.

Bagi usia 71 tahun ini, permohonan dana besar tersebut bukan tukar guling. Menurutnya, permohonan pembiayaan tetap dilakukan meski dirinya mendapat rekomendasi sebagai calon wali kota Solo dari PDIP.

Kini Achmad Purnomo kembali melanjutkan tugasnya sebagai wakil wali kota Solo. Memang ada permintaan untuk masuk tim pemenangan. Tawaran itu ditolak. Dia memilih menjadi anggota pasif saja. Khawatir tidak bisa kerja sepenuh hati.

“Nanti kalau Mas Gibran sudah aktif sebagai wali kota, saya diminta bantuannya, diminta sarannya, saya siap,” tegasnya.

PDIP akhirnya pada Jumat, 17 Juli 2020, resmi mengusung pasangan Gibran Rakabuming dan Teguh Prakosa untuk maju di Pilkada Solo 2020. Keduanya hadir di kantor DPD PDIP Jawa Tengah, Semarang, untuk menerima surat penetapan calon.

Ketua DPC PDIP Surakarta FX Hadi Rudyatmo menyatakan menerima keputusan itu dan menunggu aba-aba untuk menjalankan mesin partai untuk memenangkan pasangan Gibran-Teguh. FX Rudy menegaskan tidak merasa kecewa. Apapun yang terjadi yang sudah dipilih rekomendasi hukumnya wajib untuk memenangkan.

Sumber: merdeka.com

Pos terkait