Pernyataan AHY Buat Kecewa Anak Buah Megawati

  • Whatsapp
Pernyataan AHY Buat Kecewa Anak Buah Megawati
Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono. (Foto: SINDOnews)

SUARAHARIAN.COM – Pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terkait RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Menurutnya, RUU tersebut memuat nuansa ajaran sekularistik dan juga ateistik sebagaimana tercermin dalam pasal 7 ayat (2) dalam rancangan tertuang bunyi ciri pokok Pancasila berupa Trisila, yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan ketuhanan.

Tak ayal pernyataan tersebut membuat kecewa Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Tangerang Selatan Wanto Sugito. Menurutnya, tidak bisa memahami keseluruhan isi RUU tersebut lantaran partainya menarik diri dari DPR.

Bacaan Lainnya

“Ketuhanan yang dimaksudkan Bung Karno adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan yang tidak ada egoisme agama. Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur, atau ketuhanan yang berkebudayaan. RUU HIP sendiri adalah inisiatif DPR RI. Nah, Demokrat tidak mengikuti seluruh pembahasan RUU di DPR, dan memilih menarik diri. Gaji DPR diterima, tetapi kerjaan tidak. Jadi sebelum berkomentar, sebaiknya Mas AHY baca seluruh risalah sidang BPUPK termasuk pidato Bung Karno,” ujar Wanto Sugito dalam keterangan tertulis sebagaimana dikutip dari JawaPos.com, Sabtu (28/6).

Wanto Sugito menilai AHY tidak mengerti runutan sejarah terkait kepemimpinan dan usulan Soekarno hingga akhirnya pancasila diterima sebagai dasar negara setelah melalui pembahasan panjang Panitia Sembilan yang menghasilkan Piagam Jakarta, sidang PPKI yang menjadikan rumusan final tentang Pancasila.

Mantan aktivis 98 UIN Syarif Hidayatullah Ciputat ini melanjutkan, bung Karno menawarkan Pancasila sebagai konsep negara Indonesia di depan sidang BPUPKI yang dipimpin Dr Radjiman Wedyodiningrat. Saat itu, bung Karno menyampaikan orasi yang menawarkan tentang bilangan lima yang akan diperasnya menjadi tiga saja, yakni, sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan ketuhanan.

Lebih lanjut, Wanto Sugito menyebutkan bahwa Bung Karno menawarkan satu perkataan untuk Indonesia yang tulen adalah gotong royong. Tawaran tersebut disampaikan apabila Pancasila memang harus diperas dari lima sila menjadi tiga dan akhirnya menjadi satu.

dari hal tersebut, Wanto pun mempertanyakan apa dimaksud sekularistik dan ateistik oleh AHY.

Di situlah letak kekecewaan Wanto Sugito kepada AHY terkait maksud istilah sekularistik dan atheistik yang dia maksud. “Perdebatan, kritik dan masukan sah-sah saja. Tapi harus nyambung, jangan asal tuduh dan mengaburkan sejarah,” tugasnya.

“Dalam cita-cita politikku, aku ini nasionalis. Dalam cita-cita sosialku, aku ini sosialis. Dalam cita sukmaku, aku ini theis, sama sekali theis, sama sekali percaya dan mengabdi pada Tuhan yang Maha Esa,” demikian kata Wanto mengutip pidato Bung Karno.

Wanto menegaskan, presiden Soekarno juga mengenalkan Pancasila kepada dunia dengan mengutip surat Al Hujarat ayat 13 ketika berpidato di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. “Wahai manusia sesungguhnya aku menjadikan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, agar kamu hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, dan kamu sekalian dapat mengenal satu sama lain, tapi ketahuilah yang mulia di antara kamu sekalian ialah yang bertaqwa kepada-Ku.” kutip Soekarno waktu itu.

Atas dasar itulah, Wanto menegaskan Soekarno tidak bisa dikatakan sebagai seorang atheis dari segi apapun.“Jadi bagaimana mungkin pemikiran Bung Karno bisa dikatakan Sekuleristik apalagi Ateistik. Sangat disayangkan cara berpikirnya,” pungkasnya.

‎Sebelumnya, Terkait Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) secara tegas menolak pembahasan RUU HIP tersebut. AHY meminta seluruh pihak agar memperkuat fondasi penolakan ini untuk mencegah perpecahan.

“Kita perkuat fondasi agar Indonesia terhindar dari perpecahan di akar rumput. Karena itu, Partai Demokrat menentang praktik eksploitasi politik yang sering kali dimainkan dalam konstelasi politik bangsa ini. Khitah perjuangan Partai Demokrat adalah wasathiyah atau tengah dan moderat, nasionalis-religius,” kata AHY dalam webinar bertema ‘Bedah Tuntas RUU HIP’, Jumat (26/6).

AHY mengaku tidak ingi terjebak dalam gagasan ideologi di luar Pancasila. Ia juga memastikan partai Demokrat tetap akan berada di tengah menjaga keseimbangan.

“Tidak mau terjebak dalam pertarungan ideologi ekstrem, apakah ekstrem kiri maupun ekstrem kanan. Saat ada yang menikmati terjadinya eksploitasi politik identitas, kami istiqomah dan konsisten dan tidak tergoda dan tetap berada di tengah menjaga keseimbangan. Karena hidup adalah keseimbangan,” ujarnya.

Menurut AHY, seharusnya saat ini semua elemen masyarakat fokus terhadap penanganan virus Corona bukan malah memunculkan isu yang tidak memiliki urgensi.

“Kita sayangkan jika di saat seperti ini, yang seharusnya kita bersatu, tapi dimunculkan isu-isu lain yang tidak memiliki urgensi. Tapi justru kontraproduktif terhadap upaya besar bersama menghadapi krisis pandemi. Sekali lagi bisa menghadirkan permasalahan baru yang tidak kita perlukan,” ucapnya.

“Kita tahu semakin banyak masyarakat kita yang mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak yang lapar, yang kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, dan terdampak kehormatan dirinya. Ini semua harus jadi perhatian dan fokus kita bersama,” sambung AHY.

Lebih lanjut, AHY menyampaikan alasan penolakan terhadap RUU HIP. Menurutnya RUU HIP akan memunculkan tumpang tindih dalam sistem kenegaraan. Dia menyebut RUU ini berpotensi memfasilitasi tafsir terhadap Pancasila.

“RUU HIP memuat nuansa ajaran sekularistik dan juga ateistik sebagaimana tecermin dalam Pasal 7 ayat 2 RUU HIP yang berbunyi ciri pokok Pancasila berupa trisila, yaitu sosionasionalisme, sosiodemokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan. Hal ini mendorong ancaman konflik ideologi, polarisasi sosial-politik, hingga perpecahan bangsa yang lebih besar,” tegas AHY.[brz/nu]

Pos terkait