Muhammadiyah Dan NU Mundur Dari POP Kemendikbud, Cak Nanto: Nadiem Makarim Harus Belajar Sejarah

  • Whatsapp
Ketum PP Pemuda Muhammadiyah, Sunanto/RMOL
Ketum PP Pemuda Muhammadiyah, Sunanto/RMOL

SUARAHARIAN.COM – Imbas mundurnya organisasi masyarakat Islam terbesar Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dari program organisasi penggerak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (POP Kemendikbud) mengindikasikan bahwa Nadiem Makarim tidak memahami karakter budaya pendidikan di Indonesia.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Sunanto saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (24/7).

Bacaan Lainnya

Menurut Cak Nanto -sapaan akrabnya- mundurnya dua organisasi besar yang telah teruji berkhidmat untuk bangsa Indonesia sejak pra kemerdekaan harus menjadi cambuk bagi Nadiem untuk segera melakukan pembenahan, baik konsep dan juga alur dalam menelorkan sebuah program unggulan.

“Sebelum diberlakukan yang muncul adalah terjadinya banyak simpang siur, soal mekanisme sebelum diberlakukan harus memahami culture khas di masyarakat. Nggak bisa dipaksakan,” demikian kata Cak Nanto, Jumat (24/7).

Lebih lanjut Cak Nanto menilai, meski niatan ide POP Kemendikbud baik, Nadiem harus belajar dari sejarah bahwa Muhammadiyah dan NU telah teruji dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Meski tanpa dibantu dana oleh pemerintah, Muhammadiyah dan NU telah teruji jejak perjuangan. Bahkan termasuk dua unsur yang turut menentukan lahirnya kemerdekaan republik Indonesia.

“Program POP seharusnya dikaji lebih matang apalagi informasi yang kita dapat belum ada payung hukum. Jangan melakukan sesuatu yang justru menimbulkan masalah bagi organisasi sipil yang telah berkhidmat untuk bangsa ini,” tandas pria yang dikenal sebagai mantan Kornas JPPR ini.

Cak Nanto juga menyoroti, kiprah Nadiem sejak menjabat Menteri yang kerap mengatakan tidak tahu masa lalu dan hanya bicara masa depan.

Menurut alumni Ikatan mahasiswa Muhammadiyah ini, dari mundurnya Muhammadiyah NU, Nadiem harus segera belajar sejarah bagaimana kiprah dua ormas itu. Dengan demikian, kebijakan yang dibuat oleh Nadiem akan mewakili karakter budaya masyarakat Indonesia.

“Upaya kreatif mungkin bagus tapi tidak boleh menabrak aturan dan kultur masyarakat, harus sesuai, kalau belum ideal minta masukan publik. Kalau upayanya, salah satunya Nadiem harus belajar tentang pendidikan masa lalu, yang dia pahami adalah masa depan, tapi masa depan harus dipahami utuh tidak mungkin hadir tanpa masa lalu dan hari ini,” pungkas Cak Nanto.

Sumber: rmol.id

Pos terkait