Hasto: Mas Gibran Tak Bisa Memilih Lahir Dari Mana

  • Whatsapp
Hasto: Mas Gibran Tak Bisa Memilih Lahir Dari Mana
Bakal calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka (kiri) berada di kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan, Solo, Jawa Tengah, Jumat 17 Juli 2020. Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa resmi mendapat rekomendasi PDI Perjuangan untuk maju sebagai bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo pada Pilkada serentak Desember mendatang. (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

SUARAHARIAN.COM – Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto angkat suara ihwal kritik politik dinasti di Pilkada 2020. Salah satunya yang menyangkut pencalonan putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka di Pemilihan Wali Kota Solo.

Hasto mengatakan Gibran memang anak seorang presiden. Namun, kata dia, Gibran sebagai warga negara juga memiliki hak konstitusional untuk diusung sebagai calon kepala daerah.

Bacaan Lainnya

“Mas Gibran tidak bisa memilih mau lahir dari mana,” kata Hasto dalam konferensi pers virtual, Rabu, 22 Juli 2020.

Menurut Hasto, yang terpenting para calon kepala daerah itu mengikuti mekanisme yang ada di PDIP. Mereka, termasuk Gibran, juga diharuskan mengikuti sekolah partai untuk proses kaderisasi dan kepemimpinan.

Ihwal dinasti politik, Hasto menyebut PDIP menempatkan proses kaderisasi dimulai dari keluarga. Menurut dia, sudah menjadi lazim bahwa pendidikan bermula dari lingkup keluarga, termasuk pendidikan politik.

Mantan anggota DPR ini mencontohkan ayah-anak George Herbert Walker Bush dan George Walker Bush yang sama-sama terjun ke dunia politik Amerika Serikat hingga menjadi presiden. Begitu juga keluarga Kennedy yang juga eksis di jagat politik Negeri Abang Sam. “Jadi itu merupakan hal yang sifatnya alamiah di dalam kehidupan politik,” kata Hasto.

Pencalonan Gibran memang menuai kritik dari sejumlah pihak. Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai pencalonan Gibran gejala langgengnya dinasti politik dan menguatnya oligarki.

Menurut Ujang, PDIP semestinya memunculkan kader-kader internal terbaik untuk menjadi kepala daerah. “Bukan mencomot orang dari luar, yang tidak pernah berkeringat dan berdarah-darah untuk partai,” ujar Ujang pada Ahad, 19 Juli 2020.

Sumber: tempo.co

Pos terkait