Bukan Jimat, Bukan Sihir, Indonesia Temukan Kalung Anti-virus Corona

  • Whatsapp
Kalung eucalyptus dari Kementan. (Foto: Achmad Reyhan Dwianto/detikHealth)
Kalung eucalyptus dari Kementan. (Foto: Achmad Reyhan Dwianto/detikHealth)

SUARAHARIAN.COM – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) berhasil menemukan kalung anti Corona berbahan dasar pohon kayu putih atau eucalyptus. Penemuan tersebut sudah memiliki hak paten dari Kementan dalam bentuk produk aromaterapi.

Menurut hasil penelitian, Balitbang menyimpulkan Eucalyptus mampu membunuh 80-100 persen virus mulai dari avian influenza hingga virus corona. Akan tetapi, produk teman Balitbang tersebut bukan obat oral maupun vaksin.

Bacaan Lainnya

Kementan menggandeng PT Eagle Indo Pharma untuk pengembangan dan produksi produk tersebut yang nantinya akan dikemas dalam beragam bentuk seperti kalung inhaler, roll on, salep, balsem, dan diffuser.

Kalung aromaterapi eucalyptus tersebut menurut Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian (Kementan) Indi Dharmayanti merupakan salah satu dari 5 varian yang berpotensi sebagai anti virus.

“Ini bukan jimat, bukan sihir, itu hanya semacam aksesoris aroma terapi,” ucap Indi sebagaimana dikutip dari Cnbcindonesia.com (6/7/2020).

Demikian pula disampaikan oleh Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry. Menurutnya, tanaman tersebut merupakan salah satu ikhtiar pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam menyikapi pandemi covid yang tengah mewabah, langkah ini juga diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menghargai dan mendukung karya anak bangsa.

“Para peneliti di Balitbangtan ini juga bagian dari anak bangsa, mereka berupaya keras menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsanya, semoga hal ini mampu menjadi penemuan baik yang berguna bagi kita semua” jelas Fadjry dalam pernyataan resminya, Senin (6/7).

Menurut Fadjry minyak atsiri eucalyptus citridora bisa menjadi antivirus terhadap virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus.

Dari dulu,bEucalyptus dikenal mampu bekerja melegakan saluran pernapasan, kemudian menghilangkan lendir, pengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual, dan mencegah penyakit mulut.

Menurut Fadjry, laboratorium tempat penelitian eucalyptus telah mengantongi sertifikat level keselamatan biologi atau biosavety level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner. Penemuan tersebut disimpulkan melalui uji molecular docking dan uji in vitro di Laboratorium Balitbangtan.

Sejak 10 tahun lalu Virologi Kementan sudah melakukan penelitian dan memang mereka tak asing dalam menguji golongan virus corona seperti influenza, beta corona dan gamma corona.

“Setelah kita uji ternyata Eucalyptus sp. yang kita uji bisa membunuh 80-100 persen virus mulai dari avian influenza hingga virus corona. Setelah hasilnya kita lihat bagus, kita lanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas hasil produknya lebih bagus,” ucapnya.

Hingga saat ini menurut Fadjry, memang banyak negara yang sedang berupaya untuk segera menemukan anti virus Corona termasuk Indonesia. Karenanya, pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga (K/L) terus mencoba mencari cara dan menemukan obat untuk mencegah serta menangani virus corona (Covid-19).

“Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas, secara laboratorium secara ilmiah kita bisa buktikan, paling tidak ini bagian dari upaya kita, minyak eucalyptus ini juga sudah turun menurun digunakan orang dan sampai sekarang tidak ada masalah, sudah puluhan tahun lalu orang mengenal eucalyptus atau minyak kayu putih, meskipun berbeda sebenarnya, tetapi masih satu famili hanya beda genus di taksonomi,” ucapnya

Dalam berbagai studi dikatakan, obat ini hanya cukup 5-15 menit diinhalasi akan efektif bekerja sampai ke alveolus. Artinya dengan konsentrasi 1 persen saja sudah cukup membunuh virus 80-100%.

Bahan aktif utamanya, terdapat pada cineol-1,8 yang memiliki manfaat sebagai antimikroba dan antivirus melalui mekanisme M pro. M pro adalah main protease (3CLPro) dari virus corona yang menjadi target potensial dalam penghambatan replikasi virus corona.

Penelitian menunjukkan Eucalyptol ini berpotensi mengikat protein Mpro sehingga menghambat replikasi virus. Manfaat tersebut dapat terjadi karena 1,8 cineol dari eucalyptus disebut eucalyptol dapat berinteraksi dengan transient receptor potential ion chanel yang terletak di saluran pernapasan.[Cnbcindonesia/brz/nu]

Pos terkait