Penjelasan Dirut Pertamina soal Keuntungan IPO Anak Usaha Dibandingkan Utang

  • Whatsapp
Pertamina. ©2014 merdeka.com/arie basuki
Pertamina. ©2014 merdeka.com/arie basuki

SUARAHARIAN.COM – Direktur Utama PT Pertamina, Nicke Widyawati menjelaskan pentingnya Initial Public Offering (IPO) anak usaha mereka. Hal itu sesuai dengan arahan dan target Menteri BUMN Erick Thohir kepada Pertamina untuk melepas saham 2 anak usaha ke publik.

Nicke menyebut, IPO merupakan salah satu cara perusahaan mendapatkan pendanaan untuk mendukung upaya restrukturisasi dan pengembangan bisnis. Adapun belanja modal (capital expenditure/capex) Pertamina untuk 6 tahun ke depan ditaksir sebesar USD 133 miliar atau sekitar Rp1.942 triliun (asumsi kurs Rp 14.602).

Bacaan Lainnya

“Kami sudah memetakan kemampuan kita itu 47 persen (dari total capex), 15 persen itu equity financing, 10 persen project financing, 28 persen ini external fund. External fund ini bisa dari berbagai cara bisa bonds, bisa pinjam ke perbankan dan bisa IPO,” jelas Nicke dalam webinar, Minggu (26/7).

Di antara 3 opsi tadi, IPO menjadi pilihan paling menguntungkan karena memiliki akses jumlah pendanaan yang luas, tidak dibatasi tenor dan pengembaliannya (deviden) lebih fleksibel.

Berbeda dengan surat utang (bonds) dan pinjaman ke perbankan. Selain dibatasi tenor, pendanaan dari surat utang dan perbankan juga dibatasi oleh debt to equity ratio (perbandingan jumlah utang dengan ekuitas perusahaan). Semakin besar utang perusahaan, semakin besar pula debt to equity rationya, dan tentu akan berpengaruh ke kondisi keuangan perusahaan.

“Kenapa kita nggak bonds saja, ya, tapi nanti debt to equity rationya ke-hit (terpukul), dan (dana) juga harus dikembalikan. Kalau IPO lebih fleksibel karena nggak terdampak debt to equity ratio dan tidak usah mengembalikan pokok-pokok pinjaman. Sebenarnya, ada plus minusnya,” ujar Nicke.

Nicke juga membeberkan, perusahaan minyak dan gas besar di dunia seperti Petronas, BP Energy, PTT hingga Exxon melakukan IPO anak usaha untuk mengembangkan bisnis mereka.

“Kita lihat seperti Petronas, dari 5 subholdingnya 4-nya di-IPO. Sama saja dengan BP, PTT, Exxon ini jadi salah satu opsi perusahaan-perusahaan untuk tumbuh dan mengembangkan usahanya,” kata Nicke.

Sumber: merdeka.com

Pos terkait